Home » » Intermezzo Empat Khalifah

Intermezzo Empat Khalifah

Written By Unknown on Senin, 18 November 2013 | 03.26

Intermezzo Empat Khalifah

Kisah perjalanan empat khalifah yang masyhur dengan julukan khulafaur-rasyidinmerupakan satu fase perjalanan sejarah yang sepantasnya menjadi cermin dari frame work kerja dan perjuangan kita saat ini. 

Abu Bakr Ashshiddiq ra, ‘Umar bin Khaththab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra, ialah empat mutiara islam hasil sepuhan langsung tangan Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam. Empat karakter mutiara ini telah Allah tetapkan untuk memimpin empat fase kekhalifahan yang berbeda, uniknya perbedaan ini telah diatur betul oleh Allah subhanallahuta’ala sehingga mix-match dengan masing-masing pribadi. 

Mari kita singgah sekejap pada perlayaran singkat Abu Bakr Ashshidiq;

Masa kekhalifan orang terdekat Rasulullah ini hanya berjalan dua tahun tiga bulan, tapi sesungguhnya warisan penting dari waktu singkat tersebut ialah penjagaan mabda’ (prinsip dasar) ajaran islam dan menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.

Hal ini terlihat dari tiga hal penting yang menjadi concern utama sang Khalifah, yaitu:

1.    Pemberantasan para murtad
2.    Pemberantasan para nabi palsu di Yaman, seperti Musailamah dan Thulaihah Al-Assady
3.    Memerangi para muslim yang enggan membayar zakat

Paska wafatnya Rasulullah sebagian bangsa Arab menyatakan terang-terangan bahwa mereka murtad disamping ada pula yang tetap islam namun menolak membayar zakat. Inilah masa transisi yang sulit setelah sosok panutan tidak lagi ada di tengah-tengah mereka. Menjadi catatan penting untuk kita dewasa ini, bahwa boleh-boleh saja terinspirasi dari siapa pun, tapi ingat lah bahwa jasad itu tidak utuh, ada pun esensi dari content kebaikan itulah yang sejati. Maka jangan semata-mata figuritas yang membuat kita kukuh, lalu ketika ia hilang kita pun loyo.

Dan masa transisi ini harus dilewati Abu Bakr dengan tegas., sebagaimana akhirnya beliau melancarkan perang terhadap para murtad dalam peristiwa habrur-riddah dengan memberangkatkan 12 kompi dalam satu hari. Setegas itu pula sikap Abu Bakr ketika menghadapi para pembangkang yang masih minta-minta kompromi dalam perkara zakat. Hingga terjadi pertempuran tak imbang antara pasukan Abu Bakr yang sedikit dan pasukan pembangkang yang banyak. Namun atas izin Allah terhadap keteguhan semangat Abu Bakr untuk mempertahankan prinsip dasar islam, pasukan mukmin menang telak dalam pertempuran dahsyat tersebut.

Inilah cermin berpikir yang jauh dan dalam. Walau pun sebagian ulama pada saat itu termasuk Umar pada awalnya tidak sepakat dengan sikap Abu Bakr untuk memerangi pembangkang karena keislaman mereka, namun Abu Bakr tetap dengan pendiriannya. Sikap ini adalah bentuk konsistensi memelihara fikrah islam demi pewarisan yang benar terhadap generasi selanjutnya. Ia utamakan keutuhan ajaran islam yang sempurna, daripada memelihara keutuhan kuantitas kaum muslimin dan negera namun tanpa fikrah islam yang utuh. Coba bayangkan seandainya saat itu Abu Bakr bertoleransi soal zakat? Barangkali saat ini kita jadi  punya alasan untuk menjadikan zakat sebagai kisah harmoni masa lalu saja, tanpa pengamalan. Semoga Allah memberkahi keteguhan Abu Bakr.

Saat Abu Bakr merasakan ajalnya kian dekat, ia memanggil para sahabat untuk bermusyawarah perihal rencananya untuk mengangkat ‘Umar bin Khaththab sebagai khalifah selanjutnya. Banyak para sahabat yang tidak sepakat dengan pengangkatan Umar, namun setelah Abdurrahman bin ‘Auf menyampaikan tanggapannya bahwa, “kami tidak mengenal engkau (Abu Bakr) kecuali menginginkan yang terbaik, dan engkau tetap sebagai orang yang baik dan suka memperbaiki!” Barulah para sahabat tersadar.

Setelah Abu Bakr mantap betul dengan kerelaan orang muslim terhadap Umar, Abu Bakr membai’at Umar di hadapan kaum muslimin. Setelah peneguhan janji itu, Abu Bakr berwasiat pada Umar, sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku mengangkatmu sebagai khalifah sepeninggalku. Hendaklah engkau BERTAQWA KEPADA ALLAH. Sesungguhnya Allah mempunyai amal malam hari yang tidak Dia terima pada siang hari dan amal siang hari yang tidak Dia terima pada malam hari. Dia tidak menerima ibadah sunnah sampai ibadah fardhu dijalankan. Bila engkau memelihara wasiat ini, maka tidak ada KEGAIBAN yang lebih engkau cintai selain KEMATIAN, sedang ia akan menimpamu. Dan jika engkau mengabaikan pesanku, maka tidak ada kegaiban yang lebih engkau benci selain kematian itu sendiri. Dan aku tidaklah mengalahkan Allah.”

Tak ada salahnya, jika wasiat ini turut kita jadikan pegangan, meski terkhusus Abu Bakr berikan pada Umar. Terlebih saat dakwah memasuki era menuju B3SAR ini. sebagaimana Abu Bakr paham betul, soal  strategi bernegara, taktik politik, dll, tak perlu diwasiatkan, karena ia akan muncul dengan alaminya, namun PESAN KETAQWAAN, itulah sebaik-baiknya wasiat. Segala macam jalan kemudahan bernegara bagi Abu Bakr hanya dapat muncul dengan satu modal dasar, yaitu taqwal-quluub¸taqwa kepada Allah subhanallahuta’ala.

Menjelang kematiannya, Abu Bakr menghadapi sakratul maut didampingi putri tercintanya, A’isyah ra, persis seperti yang dilalui oleh sahabat terkasihnya, Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam. Saat A’isyah mendendangkan satu buah sya’ir, Abu Bakr dengan ruhul-qur’an nya justru melantunkan sepenggal ayat ke 19 dari surah Qaaf;

“Dan datanglah sakratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”

Kemudian melayanglah ruh Mujahid sejati ini, sedang tutur terakhirnya adalah:

“Ya Rabbi, matikanlah aku dalam keadaan muslim dan pertemukanlah aku dengan orang-orang shalih.”

Berakhirlah hidup Abu Bakr di pentas dunia nan fana ini, sementara satu amalnya, kata Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam, tak mampu menyamai amal seluruh kalian. Hingga Umar nan gagah pun menetes air mata beningnya, seraya berucap:

“Wahai Abu Bakar, engkau telah menjadikah khalifah sesudah engkau susah untuk menirumu!”
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alahiwassalam telah berhasil membawa masyarakat islam ke puncak keluhuran melampaui manusia biasa. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pahlawan adalah mereka yang berhasil melampaui kemampuan dirinya, maka ialah Rasulullah yang telah berhasil mencetak pahlawan-pahlawan islam yang sanggup berjuang hingga bahkan kering titis darah mereka.

Pada intermezzo kali ini, mari kita sejenak bernostalgia pada kejayaan ‘Umar bin Khaththab ra.

Dialah ‘Umar bin Khaththab yang tubuhnya besar kekar, yang kekuatan fisiknya mampu mengalahkan 20 puluh orang dewasa saat ini, yang juga suara berat berwibawanya berpadu dengan kecerdasan pikirnya.

Kehadiran ‘Umar dalam kancah sejarah islam telah melejitkan fase dakwah dari sirriyah menjadi terang-terangan. Atas izin Allah pula lah, kekhalifahan yang dipimpin oleh ‘Umar setelahnya mampu mendobrak ekspansi terluas sepanjang sejarah dengan rentang waktu 10 tahun 6 bulan 8 hari saja.

‘Umar bin Khaththab telah diangkat oleh Abu Bakr Ashshiddiq ra sebagai khalifah dengan cara tariqul-ahad, yaitu memilih sendiri penggantinya setelah mendengarkan pendapat yang lain, dan lalu membai’atnya di depan umum. Beberapa ulama berpendapat, bahwa cara ini dipilih karena Abu Bakr ingin menghindari perpecahan dalam tubuh ummat jika mereka memilih sendiri, persis seperti yang sempat terjadi pada masanya.

Sepanjang masa kekahalifahannya, ‘Umar berhasil memunculkan berbagai macam peristiwa spektakuler dan mencengangkan sejarah. Tak heran lagi, jika concern utama panglima sejati ini adalah PENAKLUKAN dan PERLUASAN.

Banyak pihak yang menklaim ‘Umar sebagai “tukang perang”, padahal ianya sendiri sangat membenci perang jika bukan untuk pembelaan dan perlindungan terhadap agama dan wilayah islam. Uniknya pertahanan atau penaklukan ini justru berujung pada perluasan wilayah. Inilah hebatnya ‘Umar, STRATEGIS!

Tercatat kurang lebih 44 penaklukan yang berhasil dimenangkan di bawah kepemimpinan ‘Umar, meliputi jazirah Arab, Syiria, Mesir, sebagian besar Persia, termasuk pula pembukaan Baitul Maqdis. Bahkan Damaskus telah ditaklukan ‘Umar pada tahun pertama kekhalifahannya, melanjutkan perjuangan yang sempat dilakukan di masa Abu Bakr. Begitu juga dengan Baitul Maqdis, kota ini dikepung selama empat bulan oleh pasukan muslim yang dipimpin oleh ‘Amru bin Ash, sebelum akhirnya dapat ditaklukkan dengan syarat Khalifah Umar bin Khattab sendiri yang menerima “kunci kota” itu dari Uskup Agung Sefronius, karena kekhawatiran mereka terhadap pasukan Muslim yang akan menghancurkan gereja-gereja.

Adapun dalam strategi militer, ‘Umar berhasil menemukan sistem militer yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya, yang mana ‘Umar membagi pasukan besarnya menjadi batalion-batalion yang lebih kecil,  sesuai dengan isi surat ‘Umar kepada Sa’ad bin Abi Waqash;

“Jika engkau sudah menerima suratku ini maka pecahlah pasukanmu menjadi satuan-saatuan yang lebih kecil. Jelaskan kepada mereka tentang tindakan itu, angkatlah pemimpin untuk tiap-tiap pasukan, berilah perintah pemimpin-pemimpin itu di depan semua pasukan, hormati mereka di depan anak buah mereka, dan serahkan panji-panji pasukan pada prajurit yang paling cepat memacu kudanya.”

Uniknya, keluhuran hati dan kebijaksanaan ‘Umar membuat para musuh pada akhirnya kagum dan percaya dengannya, ini disebabkan oleh semua penaklukan ‘Umar justru memberikan dampak positif pada wilayah tersebut. Maka tak heran, pada masa ‘Umar, orang berbondong-bondong masuk islam tanpa paksaan. Inilah memang yang menjadi misi ‘Umar, penakulukan untuk menegakkan keadilan, serta menggenapi pewaris negeri dengan keislaman.

Di balik pribadi ‘Umar yang terkenal tegas dan keras, sesungguhnya ‘Umar sendiri juga merupakan sosok yang sangat penyayang dan melankolis. Seringkali ‘Umar menangis karena takut pada Allah subhanallahuta’ala. Bahkan ‘Umar adalah pemimpin yang tak pernah segan-segan turun langsung untuk meminta nasehat dari rakyatnya. 

‘Umar jugalah yang terkenal sebagai pemimpin tukang ronda, menginspeksi langsung keadaan rakyatnya, bahkan tanpa satu orang pengawal pun. Ini seperti kisah yang dituturkan oleh Auza'iy, yang pada satu malam 'memergoki' Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza'iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumah mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang tersebut. Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tidak lain adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.

Subhanallah… mudah-mudahan Allah memuliakan ‘Umar..

Masih panjang daftar kebajikan serta keberanian yang telah dilakukan ‘Umar bin Khaththab. Sampai akhirnya sang panglima ini syahid di saat akan mengimami sholat shubuh oleh tikaman Abu Lukluk, yang konon menaruh dendam terhadap kekalahan Persia serta kebijakan-kebijakan ‘Umar.

Sebelum menutup kisah ini, ada cuplikan menarik tentang percakapan ‘Umar dengan Salman Alfarisi ra;

‘Umar: apakah aku ini raja atau khilafah?

Salman menjawab, jika engkau memungut satu dirham, lebih sedikit atau lebih banyak, dari tanah kaum muslimin. Lalu engkau menggunakannya bukan pada haknya, berarti engkau seorang RAJA, dan bukan KHALIFAH.

Lalu meneteslah air mata bening di tubuh tegap gagah itu.. Air mata tanda takut pada Rabb-nya..


Wallahua’lam.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. PKS Pepedan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger